Kekerasan terhadap wasit sepakbola kembali terjadi di Brasil. Seorang pemain memukul wajah sang wasit usai berdebat panjang mengenai hukuman penalti yang diberikan.
Insiden ini terjadi dalam pertandingan sepakbola amatir di Brasil. Seorang pemain yang diidentifikasi bernama Lopes Vieira tak terima timnya dihukum penalti.
Perdebatan panjang terjadi antara Lopes dan wasit bernama Camilo Eustaquio de Souza. Namun, karena kadung emosi, sang pemain melepaskan bogem mentah.
Camilo tak terima dengan perlakuan tersebut. Dia pun langsung berlari ke pinggir lapangan, dan mengambil pistol dari dalam tasnya. Kebetulan dia adalah seorang anggota kepolisian.
Hakim garis yang melihat ada ketidakberesan langsung berupaya mencegah Camilo. untuk Dan ketika upaya pencegahan dilakukan, Lopes langsung disembunyikan oleh panitia pelaksana pertandingan ke ruang ganti.
Beruntungnya lagi, emosi Camilo masih bisa diredam oleh hakim garis yang bertugas. Namun, dia terancam hukuman larangan memimpin pertandingan selama dua tahun karena dianggap melakukan penyalahgunaan kekuasaan.
Menanggapi ancaman tersebut, Camilo bersikeras membela diri. Dia merasa tidak bersikap berlebihan karena apa yang dilakukan saat itu hanya untuk menegakkan hukum.
"Aksi saya tidaklah berlebihan. Apa yang saya lakukan bertujuan agar pertandingan tetap bisa dikontrol," tutur Camilo, seperti dikutip dari The Sun.
"Saya membuat keputusan itu karena kapasitas saya sebagai polisi, dan menangkap warga yang menyerang saya," imbuhnya.
http://indolivescore.com/wasit-ini-keluarkan-pistol-di-tengah-lapangan-ada-apa/
Senin, 03 Juli 2017
Wasit Ini Keluarkan Pistol di Tengah Lapangan, Ada Apa?
Timnas Jerman Angkat Trofi Juara Piala Konfederasi 2017
Jerman berhasil tampil luar biasa dan menegaskan diri sebagai timnas nomor satu di dunia. Bersua Chile pada babak final Piala Konfederasi 2017 di Krestovskyi (Saint Petersburg) Stadium, Senin dini hari, 3 Juli 2017, armada Joachim Loew menang tipis 1-0.
La Roja memulai laga dengan tempo cepat. Mereka langsung menusuk ke jantung pertahanan Jerman di awal laga.
Chile sama sekali tak memberikan kesempatan bagi Jerman dan terus mengurung pertahanan Julian Draxler cs. Keasyikan menyerang ternyata membuat petaka bagi La Roja.
Gary Medel yang sedang menguasai bola kehilangan keseimbangan dan membuat bola mudah saja direbut oleh Timo Werner. Werner pun langsung merangsek ke kotak penalti Chile dan tanpa kesulitan mengecoh Claudio Bravo dan memberikan bola kepada Lars Stindl yang langsung menceploskan bola ke dalam gawang pada menit 20. 1-0 Jerman unggul hingga turun minum.
Kondisi tertinggal memaksa Chile tampil menekan di babak kedua. Mereka kembali menciptakan beberapa peluang yang masih gagal dieksekusi sempurna.
Tak hanya kedua tim, wasit pun harus bekerja keras memimpin pertandingan yang berjalan dengan tensi tinggi. Beberapa kali pemain Jerman dan Chile terlibat keributan ditengah laga.
La Roja hampir saja menyamakan kedudukan di akhir babak kedua. Sayang, Anyelo Zagal tak mampu menendang bola dengan tenang ke arah gawang Der Panzer yang sudah kosong.
Pun dengan usaha Alexis Sanchez dari tendangan bebas di masa injury time. Ketangguhan Ter Stegen membuat Chile hanya bisa menggaruk kepala.
Tak lama berselang, wasit pun meniupkan peluit panjangnya. Jerman pun meraih gelar Piala Konfederasinya di sepanjang sejarah.
Susunan Pemain:
Chile: Claudio Bravo (GK); Mauricio Isla, Jean Beausejour, Gary Medel, Gonzalo Jara; Marcelo Diaz (Leonardo valencia 53'), Pablo Hernandez, Charles Aranguiz (Anyelo Zagal 81'); Arturo Vidal, Alexis Sanchez, Eduardo Vargas (Edson Puch 81').
Jerman: Marc-Andre ter Stegen (GK); Shkodran Mustafi, Matthias Ginter, Antonio Ruediger; Joshua Kimmich, Jonas Hector, Sebastian Rudy, Leon Goretzka; Lars Stindl, Julian Draxler, Timo Werner (Emre Can 79').
http://indolivescore.com/timnas-jerman-angkat-trofi-juara-piala-konfederasi-2017/
Lukaku atau Aubameyang yang Akan Gantikan Diego Costa?
Juara Liga Inggris 2016-2017, Chelsea, tengah berfokus untuk bisa memulangkan mantan striker mereka yang kini menjadi milik Everton, Romelu Lukaku. Hal itu disebabkan, Lukaku berhasil menarik hati manajer Chelsea, Antonio Conte, melalui penampilannya sepanjang musim lalu.
Kendati demikian, bentuk realisasi untuk bisa mendatangkan Lukaku tidak dapat dikatakan mudah. Pasalnya, Everton mematok harga yang terbilang tinggi untuk striker andalannya itu. Tak tanggung-tanggung, kubu London Biru membanderol Lukaku senilai 100 juta pounds atau sekira Rp1,7 triliun.
Hal itu jelas membuat Chelsea berpikir kembali untuk mendaratkan Lukaku di Stamford Bridge. Berdasarkan info yang diberitakan The Sport Review, Kamis (29/6/2017), sebagai alternatif dari Lukaku, Chelsea tengah bersiap untuk membidik striker Borussia Dortmund, Pierre-Emerick Aubameyang.
Meski begitu, untuk bisa mendapatkan servis Aubameyang, Chelsea harus bersaing dengan raksasa Prancis, Paris Saint-Germain (PSG) dalam perburuannya. Bukan tanpa alasan, penampilan gemilang Aubameyang musim lalu telah berhasil membuat PSG tertarik memboyongnya untuk dijadikan tumpuan di lini depan.
Aubameyang berhasil mencatatkan namanya sebagai top skor Liga Jerman musim lalu. Dari 32 pertandingan yang dilakoni Aubameyang sepanjang musim lalu, striker berpaspor Gabon itu berhasil membukukan 31 gol.
http://indolivescore.com/lukaku-atau-aubameyang-yang-akan-gantikan-diego-costa/
Pemain-Pemain yang Terlibat Doping Akan Dipublikasi?
Pelatih timnas Jerman, Joachim Loew mengatakan, nama pemain yang terbukti menggunakan doping seharusnya dipublikasikan dan dilarang bermain lagi. Pernyataan ini ia ungkapkan setelah FIFA melakukan investigasi kepada salah seorang pemain Rusia yang dinyatakan menggunakan doping. "Saya ingin organisasi menguji kami di kamp pelatihan dan selama pertandingan dan sebelumnya mereka harus memberi kami namanya. Saya ingin namanya," kata Loew saat konferensi pers sebelum timnya bertanding di semifinal Piala Konfederasi 2017 melawan Mesiko, Kamis (29/6).
Loew mengatakan, jika tuduhan tersebut terbukti harusnya ada nama yang keluar. Menurut Loew, FIFA tidak seharusnya menyembunyikan nama pemain tersebut. Sektaris Jendral FIFA Fatma Samoura mengatakan, Badan Sepakbola Rusia cukup koperatif dengan Agensi Anti-Doping Dunia (WADA). Menurut Samoura, Rusia juga tidak menoleransi atletnya menggunakan doping. "Mudah-mudahan ini akan menjadi sesuatu yang bisa dihentikan, sehingga kita bisa mulai fokus pada sepak bola yang sehat," kata Samoura di Kazan, pada Rabu malam.
FIFA mengatakan, pada Ahad kemarin pihaknya telah menyelidiki pemain asal Rusia yang dituduh menggunakan doping. Mereka dianggap mendapat keuntungan dari skema peraturan penggunaan doping yang rumit di Rusia. Sementara Rusia menyangkal adanya persoalan penggunaan doping di negara mereka. Pada Desember tahun lalu seorang pengacara olahraga dari Kanada Richard Mclaren mengatakan ada lebih dari seribu atlet Rusia yang terlibat atau mendapat keuntungan dari penyalahgunaan peraturan tentang doping di negara tersebut.
http://indolivescore.com/pemain-pemain-yang-terlibat-doping-akan-dipublikasi/
Ini Bukti Juventus Layak Disebut Raja Transfer Eropa
Setelah skandal Calciopoli yang mengguncang sepak bola Italia, Juventus kehilangan guru transfer mereka yaitu Luciano Moggi, dan klub raksasa Italia tersebut dianggap akan kesulitan untuk terus menciptakan transaksi pemain yang menguntungkan secara finansial maupun prestasi.
Namun hingga kini Bianconeri terus menunjukkan bahwa mereka merupakan tim yang paling efektif dan cerdas dalam menggunakan uang untuk mendapatkan pemain kelas dunia dengan harga terjangkau atau bahkan gratis. Berikut adalah lima transfer yang membuktikan bahwa Juventus masih merupakan raja transfer di sepak bola Eropa.
Dani Alves (gratis)
Pada awal musim lalu, Juventus membutuhkan tambahan pemain di posisi bek atau sayap kanan, dengan performa Stephan Lichtsteiner yang mulai mengalami penurunan. Dan melihat situasi Dani Alves yang tidak menyenangkan di Barcelona, dengan kedatangan Aleix Vidal dari Sevilla yang membuat posisinya di bek kanan terancam, Juventus bergerak cepat untuk menawarinya kesempatan bermain di Juventus Stadium.
Dani Alves menerima tawaran tersebut, dan ia langsung menjadi sosok yang berpengaruh di tim asuhan Massimiliano Allegri. Alves mampu menggunakan pengalamannya untuk meningkatkan kualitas permainan Bianconeri, dan membawa klub tersebut meraih Scudetto keenam beruntun mereka, dan melangkah ke babak final Liga Champions meski mereka harus dikalahkan oleh Real Madrid di Cardiff.
Paulo Dybala (34 juta pounds)
Harga 34 juta pounds memang bukan harga yang murah untuk mendatangkan seorang pemain sepak bola, namun melihat kualitas pemain yang didatangkan oleh Juventus dua musim lalu, itu jadi tampak seperti harga yang terlampau murah.
Paulo Dybala langsung menjadi sosok utama di lini depan Juventus usai didatangkan dari Palermo. Ia menjadi pencetak gol terbanyak klub di musim pertamanya bermain di Juventus Stadium. Dan di musim keduanya, bersama Gonzalo Higuain, ia membentuk salah satu duet lini depan paling menakutkan di Eropa. Sebagai perbandingan, Everton baru-baru ini mendatangkan kiper Jordan Pickford dari Sunderland dengan harga yang hampir setara dengan harga yang dikeluarkan oleh Juventus untuk mendapatkan Dybala. Itu menunjukkan betapa efisien Bianconeri dalam menggunakan dana transfer mereka.
Paul Pogba (gratis)
Nama Paul Pogba masih asing di telinga sebagian besar pecinta sepak bola saat Juventus mendatangkannya dari Manchester United pada awal musim 2012-13. Pemain asal Prancis itu kesulitan untuk menembus skuat utama Manchester United, dan akhirnya ia memilih untuk hengkang ke Liga Italia untuk membuktikan kualitasnya.
Juventus mampu memberikan peran yang sesuai dengan kemampuan Pogba di Turin, dan hasilnya ia berkembang menjadi salah satu gelandang terbaik di dunia di Juventus Stadium. Juventus akhirnya kembali menjual Pogba ke Manchester United, dengan harga yang memecahkan rekor dunia. Strategi bisnis yang sangat menguntungkan.
Arturo Vidal
Menjelang musim 2011-12 bergulir, Juventus berusaha untuk merombak tim mereka, dengan mendatangkan wajah-wajah segar yang kelak akan menjadi tulang punggung tim. Arturo Vidal pun didatangkan dari klub Bundesliga Bayer Leverkusen dengan harga hanya 10,6 juta pounds, dan itu terbukti menjadi transaksi yang sangat krusial.
Vidal menunjukkan kualitas terbaiknya di Juventus Stadium, di mana ia mampu menjadi gelandang pemutus serangan lawan yang sangat baik, dan penyeimbang lini tengah yang solid. Arturo Vidal juga kerap menjadi penyelamat tim dengan ketangguhannya dalam duel-duel udara, dan ketenangannya dalam mengeksekusi penalti.
Andrea Pirlo
Ini bisa dibilang sebagai transfer paling brilian dari Juventus sejak era Calciopoli. Dianggap sudah termakan usia di AC Milan, Andrea Pirlo mulai kehilangan peran utamanya di San Siro. Juventus bergerak cepat dengan merekrutnya dengan status bebas transfer, dan itu terbukti merupakan keputusan yang sangat tepat.
Pirlo menjadi nyawa di lini tengah Juventus. Ia menjadi playmaker yang brilian di tengah lapangan, dan terus menciptakan sihir-sihir dengan umpan jeniusnya, serta eksekusi tendangan bebasnya yang merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Pirlo pun berperan besar dalam membawa Juventus mencapai babak final Liga Champions tahun 2015, namun sayang mereka harus ditaklukkan oleh klub Spanyol Barcelona.
http://indolivescore.com/ini-bukti-juventus-layak-disebut-raja-transfer-eropa/
Saul Niguez Tolak Tawaran Gabung MU
Penampilan ciamik Saul Niguez bersama Timnas Spanyol U-21 membuat Manchester United kepincut. Saul pun masuk daftar belanja MU di musim panas 2017 ini.
MU saat ini sudah menyusun proposal demi mendapatkan Saul. Namun, belum juga proposal dilayangkan ke Atletico Madrid selaku pemilik, Saul sudah menolaknya.
Hingga kini, Saul mengaku tak memiliki niat hengkang dari Atletico. Dia ingin membayar kepercayaan Atletico dengan loyalitasnya.
"Tak ada niat dari saya untuk pergi. Saya berada di tempat yang diinginkan. Semuanya tetap sama," kata Saul kepada AS.
"Atletico percaya kepada saya sejak masih muda. Dan, saya ingin membayar kepercayaan mereka," lanjutnya.
Bukan cuma gelandang 22 tahun tersebut yang menolak ajakan gabung MU. Sebelumnya, rekan setim Saul, Antoine Griezmann, sudah menolak MU.
Griezmann mengaku tak tega meninggalkan Atletico, yang sudah membesarkan namanya di masa sulit. Ya, saat ini Atletico tak bisa membeli pemain lantaran terbelit sanksi FIFA.
http://indolivescore.com/saul-niguez-tolak-tawaran-gabung-mu/
Minggu, 02 Juli 2017
Deretan Dream Team yang Pernah Ada di Sepanjang Sejarah Sepak Bola
Real Madrid menjadi tim pertama yang berhasil mempertahankan gelar Liga Champions sejak format modern. Kekuatan skuat mereka tampak sulit terkalahkan dengan berbekal banyak pemain berkualitas seperti Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, Sergio Ramos, Marcelo, Toni Kroos dan Luka Modric.
Namun apakah mereka sudah layak disebut sebagai The Dream Team atau tim impian? Bisa iya, bisa tidak. Namun lima tim di bawah ini sudah banyak diakui sebagai tim impian yang bisa dianggap memiliki kualitas terbaik di sepanjang sejarah sepak bola.
BARCELONA 2008-11
“Kencangkan sabuk pengaman Anda,” senyum Pep Guardiola saat dipresentasikan kepada fans Barcelona sebagai pelatih baru klub pada Agustus 2008. Dia tidak salah. Dalam waktu 50 tahun ke depan, ketika sebagian besar dari kita mungkin sudah memiliki rambut putih dan berwajah keriput, kita dapat tetap bahagia karena telah menyaksikan salah satu tim The Dream Team yang pernah tampil di puncak level sepak bola dunia.
Dengan memainkan skema yang disebut tiki-taka, Barcelona yang diperkuat oleh pemain seperti Lionel Messi, Carles Puyol, Gerard Pique, Xavi Hernandez, Sergio Busquets, Dani Alves dan Andres Iniesta mampu tampil dominan dan meraih berbagai gelar bergengsi seperti Liga Champions dan La Liga.
REAL MADRID 1955-60
Pada tahun 1960, saat Real Madrid mengalahkan Eintracht Frankfurt 7-3, tim Inggris menyaksikan pertandingan tersebut dengan tanpa suara di sebuah hotel di Budapest. Seperti yang disebut oleh Jimmy Greaves: “Kami menonton dengan mulut ternganga, masing-masing menyadarinya tapi tidak berani mengakuinya, bahwa kami tim Inggris sudah ketinggalan jauh dari mereka.”
Hanya Fontaine, striker Prancis yang mencetak 13 gol di Piala Dunia 1958, yang berani mengakui kekuatan Real Madrid saat itu, dengan mengatakan: “Terlepas dari Brasil, mereka adalah tim terbaik yang pernah saya lihat.”
Berbekal pemain penuh bakat seperti Alfredo Di Stefano, Ferenc Puskas, Raymond Kopa dan Paco Gento, Real Madrid berhasil mendominasi Eropa dengan meraih beberapa gelar Piala Champions. Dan masih belum cukup, mereka ternyata juga berniat untuk merekrut Pele, namun legenda Brasil itu mengatakan: “Saya terlalu senang di Santos untuk pergi.”
MILAN 1987-91
Arrigo Sacchi merupakan pelatih Italia yang paling sukses di Eropa, di mana ia telah meraih berbagai gelar bergengsi sejak tahun 1950-an. Namun puncak kesuksesannya terjadi mulai tahun 1987, ketika ia membuat AC Milan menghilangkan reputasi sepak bola Italia yang membosankan.
Kedatangan trio pemain Belanda Ruud Gullit, Marco van Basten dan Frank Rijkaard menjadi awal kesuksesan Rossoneri. Didukung oleh delapan maestro Italia, termasuk Paolo Maldini dan Franco Baresi, AC Milan tak terkalahkan di Eropa dan merupakan tim terakhir yang berhasil meraih gelar juara Liga Champions secara beruntun sebelum format baru.
BRASIL 1970
Brasil telah memiliki tim yang cukup baik sebelumnya: yaitu saat era Garrincha dan Pele muda membawa mereka meraih kemenangan berturut-turut di Piala Dunia pada tahun 1958 dan 1962. Namun, tim Brasil pada tahun 1970 akan dikenang sebagai tim terbaik yang pernah mereka miliki.
Ini soal gaya bermain. Brasil benar-benar menjadi tim yang menghibur dengan slogannya ‘kamu mencetak empat gol, kami akan mencetak lima gol’. Berbekal pemain legendaris seperti Pele, Tostao, Roberto Rovellino, Jairzinho, Gerson dan Clodoaldo, Brasil menjadi tim yang tampak mustahil untuk dikalahkan.
AJAX 1965-73
Ditangani pelatih disiplin Rinus Michels, Ajax yang memainkan formasi 4-3-3, menunjukkan gaya permainan revolusioner yang dinamakan Total Football. Ini adalah pilar dari berbagai formasi menyerang yang dianut oleh banyak tim sepak bola pada era modern. Dengan dipimpin oleh Johan Cruyff, Ajax menampilkan orkestra dengan kemegahan permainan mereka. Johan Neeskens memberi kekokohan di tengah lapangan, Arie Haan dan Gerrie Muhren menjaga tempo permainan timnya dengan kedisiplinan taktis mereka, bek tengah Velibor Vasovic mampu memenangkan duel-duel yang dihadapinya, dan kiper Heinz Stuy menjadi palang pintu pertahanan yang sangat sulit ditembus. Ini adalah The Dream Team yang pernah ada.
http://indolivescore.com/deretan-dream-team-yang-pernah-ada-di-sepanjang-sejarah-sepak-bola/